Panduan Memasak Bubur Manado

Panduan Memasak Bubur Manado

Libur panjang dapat kau manfaatkan menciptakan bubur manado. Isiannya beragam sayuran dan ubi yang paling segar dan menyehatkan. Tinutuan atau bubur Manado yaitu di antara menu sarapan yang paling menyehatkan. Karena mengaplikasikan tidak sedikit campuran sayuran hijau dan labu yang paling kaya gizi. Mudah dipahami dan dapat memberi pasokan tenaga kemudian di pagi hari.

Panduan Memasak Bubur Manado

Cara Buat Bubur Manado

Bubur ini yaitu di antara comfort food Manado yang gampang diciptakan sendiri. Lazimnya orang Manado yang kadang bermain slot bet kecil juga memiliki kebun di halaman rumah. Mereka memungut sayuran laksana daun bayam, kangkung, ubi, labu, daun lelem atau daun gedi dari pelataran rumah.

Bahan-bahan Yang Dipakai

  • 100 gram beras
  • 200 gram labu kuning
  • 100 gram singkong
  • 1 buah jagung manis
  • 50 gram daun bayam
  • 50 gram daun kangkung
  • 1 ikat daun kemangi
  • 1 sdm bawang putih goreng
  • 1 ruas jahe
  • 2 batang serai
  • 1 sdt lada halus
  • gula pasir secukupnya
  • garam secukupnya
  • air secukupnya

Sejarah

Kata tinutuan tak dikenal asalnya. Semenjak kapan tinutuan menjadi makanan khas Kota Manado tak dikenal dengan jelas. Ada yang menuliskan tinutuan mulai ramai diperdagangkan di sejumlah daerah di sudut Kota Manado semenjak tahun 1970. Ada pun yang menuliskan sejak tahun 1981. Tinutuan digunakan menjadi moto Kota Manado semenjak kepemimpinan Wali Kota Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Wali Kota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010, menggantikan moto Kota Manado sebelumnya yakni Berhikmat.

Tinutuan, di Manado, diberi tahu dengan perkedel nike, sambel roa (rica roa, dabu-dabu roa), ikan cakalang fufu atau tuna asap, dan perkedel jagung. Tinutuan juga dapat diberi tahu dibaur dengan mi atau dengan sup kacang merah yang dinamakan brenebon dengan sebuah minuman khas indonesia timur. Tinutuan yang diberi tahu bareng mi dinamakan midal, dimana akhiran dal itu berasal dari kata pedaal yakni nama lain guna tinutuan eksklusif di area Minahasa Selatan yang yaitu area subetnis Tountemboan di Minahasa.

Dari kisah orang-orang tua, di jaman penjajahan belanda, kondisi ekonomi warga sangat rendah, sampai-sampai mereka kendala untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.